Jumat, 30 Desember 2011

Industri Rumput Golf

Oleh Budi Tjahjono
Industri rumput golf menyangkut banyak segmen, mulai dari produksi dan pemeliharaan rumput, produksi alat dan bahan untuk pemeliharaan, pemasaran produkm pemanfaatan fasilitas lapangan, sampai desain dan kontruksi padang golf.  Disamping itu terdapat pula personel atau sumber daya manusia (SDM) yang merupakan asset terpenting dalam industri apapun.  Dalam artikel ini penulis mencoba mengemukakan beberapa aspek dalam industri rumput lanskap dan olahraga, khususnya golf.
Pengelolaan rumput , khususnya di padang golf, melibatkan banyak tenaga kerja dengan berbagai jenis keahlian dan tingkat pendidikan, memerlukan modal besar, dan dikelola secara professional.  Secara global, industri rumput golf melibatkan Iptek rumput, manajemen bisnis, pengembangan sumberdaya manusia dan pemasaran produk dan jasa yang terkait dengan pengelolaan rumput.  Di Indonesia, pengelolaan rumput sudah mulai menjadi industri seiring dengan pertambahan jumlah lapangan golf dan perkembangan real estate, perkantoran, perhotelan dan kawasan industri.
Rumput mempunyai peranan penting dalam lanskap dan olah raga seperti golf dan sepakbola. Untuk lapangan olah raga maupun lanskap, rumput yang baik akan menambah kegunaan, keindahan dan nilai ekonomi.  Sebagian orang menganggap bahwa pengembangan rumput hanya didasarkan pada kemewahan seperti penggunaan di padang golf.  Namun secara luas, sebenarnya area dengan lansekap rumput dapat berperan dalam mengendalikan erosi, mengurangi suhu tinggi, keamanan dalam bermain/berolahraga dan sarana rekreasi yang dapat menurunkan stress.
Evolusi dan Perkembangan
Asal mula industri rumput hampir seiring dengan penggunaan lapangan rumput, khususnya untuk lapangan golf.  Industri alat-alat yang berkaitan dengan pemeliharaan rumput mulai berkembang ketika Edwin Budding dari Inggris mematenkan mesin pemangkas rumput pada tahun 1830.  secara umum industri ini berkembang secara pelan-pelan sampai kemudian pada decade 1950-an terjadi perkembangan yang luar biasa.  Hal ini terutama didorong oleh pertumbuhan padang golf yang si Amerika saja kini telah melewati jumlah 13000.
Secara historis, pembangunan dan pemeliharaan padang golf telah menentukan perkembangan industri rumput. Pada mulanya, banyak alat dan bahan (seperti alat pangkas dan pupuk) untuk pemeliharaan rumput padang golf diadopsi dari bidang pertanian.
Kini, dengan penanaman jenis rumput yang khusus di padang golf, telah digunakan bahan kimia yang kompleks, mesin-mesin pemangkas hidrolik dan sistem irigasi yang secara otomatis dikontrol oleh komputer.
Pelatihan sumberdaya manusia dan kegiatan riset untuk menangani problem spesifik  yang terkait dengan penggunaan rumput makin diperlukan seiring dengan penambahan padang golf.  Kegiatan dalam bidang ini di Indonesia masih dalam taraf embrio dan lambat karena antara lain kurangnya dana dan minat peneliti dalam bidang yang relatif baru ini.  Malaysia dengan dukungan swastanya telah melangkah lebih maju dibanding kita.  Di AS dan negara maju lainnya, industri yang berkaitan dengan rumput sangat menunjang program akademik yang berdampak positif bagi mereka dan masyarakat luas.
Riset dilakukan antara lain untuk mendapatkan jenis rumput yang unggul dengan sifat yang diinginkan, missal tahan hama dan kekeringan, penciptaan alat yang lebih canggih dan efisien, cara-cara pemeliharaan yang lebih ramah lingkungan , masalah tanah dan efisiensi air.
Pengembangan SDM
Industri rumput di AS dapat menjadi contoh adanya link dan match antara dunia usaha dengan universitas.  Perusahaan yang terkait dengan pengelolaan rumput, misal produsen mesin-mesin pemangkas rumput, sistem irigasi dan pupuk, bekerjasama dengan ahli di universitas membuat dan mengembangkan program pendidikan dan riset pengelolaan rumput.  Padang golf dan industri terkait menyediakan dana dan fasilitasnya untuk magang bagi mahasiswa yang belajar pengelolaan rumput.  Pihak universitas dengan demikian tidak hanya mendapatkan dana namun juga kesempatan untuk mendapatkan aspek praktis dan terapan dilapangan.
Sedangkan padang golf dan industri yang terkait dengan pengelolaan rumput merupakan media yang baik untuk pendidikan dan penyampaian informasi perkembangan baru dalam berbagai aspek pengelolaan rumput golf.  Amerika, Australia dan Singapura adalah negara-negara yang aktif menyelenggarakan pameran dan seminar tingkat internasional.  Di Indonesia pernah juga diadakan pameran serupa yaitu golfing Indonesia dan Indogolf.
Personel atau SDM yang dibutuhkan dalam industri rumput golf sangat bervariasi dalam tingkat pendidikan, keahlian dan pengalaman.  Personel ini dibutuhkan untuk posisi manajerial, profesional, supervisor, teknisi, produksi, dan pemasaran.  Peningkatan standar kualitas pafang golf, majunya teknologi, banyaknya hasil riset dan penyebaran informasi akan memaksa penggunaan personel yang lebi efisien dan efektif.

Komponen Industri
Tuntutan pegolf terhadap kondisi permainan yang prima memaksa adanya peningkatan kualitas rumput dan efisiensi operasional.  Industri yang terkait juga gencar memproduksi dan memasarkan bibit rumput unggul, alat, pupuk, dan pestisida yang lebih baik.  Sektor jasa manajemen dan konsultan, kontraktor pembangunan padang golf, dan desainer juga mempunyai peranan besar dalam industri rumput golf.
Peralatan untuk pemeliharaan rumput sangat beragam, mulai dari sistem irigasi, mesin pemangkas, alat aplikasi pestisida, topdresser, aerator, traktor, sod cutter, roller, sampai alat-alat kecil dan berbagai aksesori.
Pengadaan bibit rumput merupakan bagian penting dalam industri ini, khususnya di Negara-negara maju seperti Amerika.  Industri bibit melibatkan orang ataupun perusahaan yang mengembangkan, memproduksi, memproses, mengepak, dan/atau memasarkan bibit/benih rumput.  Di Indonesia, usaha bibit rumput masih skala kecil dan umumnya hanya memperbanyak jenis-jenis yang diimpor dari AS.  Seperti Tifdwarf dan Tifway (Tifton 419), disamping beberapa jenis rumput local.  Jenis rumput zoysia banyak diproduksi benihnya (berupa biji) di Korea, sedangkan di Indonesia dalam bentuk bibit (berupa stolon atau lempengan).  Sertifikasi terhadap benih atau bibit biasanya hanya di Negara produsen yang besar seperti Amerika.
Nilai bibit rumput salam bentuk lempengan di AS pada tahun 1982 telah mencapai $210 juta.  Rumput ini diusahakan oleh 1430 petani pada lahan seluas hamper 50000hektar.  Data mengenai hal ini di Indonesia belum ada yang mengumpulkannya.
Industri kimia sangat menunjang pemeliharaan rumput.  Produknya antara lain berupa pestisida, pupuk kimiawi, zat pengatur tumbuh dan zat-zat tambahan lainnya.  Industri ini mendapat pengaturan yang ketat berkenaan dengan efektifitas dan keamanan produk serta labeling.  Bahan kimia yang digunakan untuk pemeliharaan rumput di Amerika saja pada tahun 1984 telah melebihi nilai $ 1 milyar.
Arsitek padang golf mendesain dan menspesifikasikan prosedur konstruksi dan bahan-bahan yang digunakan termasuk jenis-jenis tanaman yang akan ditanam di lokasi tertentu.  Setelah spesifikasi ditentukan, maka tender dapat dilakukan untuk kontraktor.  Monitoring terhadap pekerjaan kontraktor atau subkontraktor sangat penting untuk memastikan bahwa pekerjaan dilakukan sesuai dengan spesifikasi dalam dokumen kontrak.

Asosiasi dan Publikasi
Dalam industri rumput golf terdapat banyak asosiasi yang terlibat.  Asosiasi ini terdiri dari organisasi atau individu yang mempunyai kepentingan yang sama dalam produk, misi atau usaha.  Mereka menyediakan informasi yang berguna mengenai penggunaan dan pengelolaan rumput, mengumpulkan sekelompok orang yang dapat melakukan pertukaran ide yang saling menguntungkan.
Beberapa asosiasi atau organisasi yang terkait antara lain American Society of Golf Course Architects, Golf Course Superintendent Association of America (GCSAA),  The International Turfgrass Society,  Musser International Turfgrass Foundation, dan U.S. Golf Association, Green Section.  Penulis merasakan banyak manfaat menjadi anggota dalam salah satu assosiasi diatas.  Jika di Indonesia juga ada asosiasi serupa atau PGI, yang juga ikut mengembangkan bidang pengelolaan rumput di Indonesia, mungkin akan banyak manfaat yang didapat oleh para anggota yang terkait dengan padang golf.
Publikasi berupa buku, jurnal ataupun artikel sangat penting dalam mengemukakan konsep-konsep baru, kemajuan IPTEK dan kecenderungan konomi yang terkait dengan golf kepada personel dalam industri rumput golf.  Beberapa publikasi yang terkait dengan masalah rumput antara lain Green Section Record(US Golf Assoc), Agronomy journal, Landscape Management, Golf Course Management (GCSAA) dan Sports Turf.
Dari uraian singkat diatas, jelas bahwa usaha yang terkait dengan rumput telah menjadi suatu industri yang cukup besar, khususnya di AS.  Ada beberaepa hal serupa yang mungkin dapat kita lakukan untuk pengembangan bidang pengelolaan rumput di Indonesia.  Contohnya adalah pembentukan Asosiasi Superintendent Padang Golf Indonesia, membentuk semacam green section sebagai tim asistensi dalam PGI untuk masalah yang terkait dengan maintenance padang golf, seminar atau training dalam bidang pengelolaan rumput padang golf, dan penulisan buku tentang rumput padang golf.
Untuk merealisasikan harapan diatas memeng tidak mudah, namun mungkin PGI atau anda dapat membantu mewujudkannya.  Hasilnya tentu kita harapkan dapat menjadi sumbangan positif bagi dunia golf maupun masyarakat luas, semoga…

1 komentar:

Sutarno Ijoasri mengatakan...

Sebenarnya rumput golf di Indonesia juga memiliki nilai komersial apabila dibudidayakan, kendala lahan yang utama bila ingin membudidayakan, Daerah kami merupakan penghasil utama dari rumput golf, (Bermuda) untuk tujuan sebagai soft material untuk pembuatan taman
Yang ingin kami bagikan disina adalah
1. Kebutuhan fluktuatif, minim pada kisaran bulan maret april, dan paling tinggi pada bulan November dan Desember sebagai dampak adanya target penyelesaian proyek pemerintah akan pekejaan yang berhubungan dengan ground cover
2. Lahan Semakin berkurang karena adanya perkembangan properti yang pesat
3. Petani yang banyak beralih ke pekerjaan yang lebih instan menghasilkan uang
Trimakasih